Bukan Sekadar Hotel, Kusuma Sahid Prince Menyimpan Jejak Pangeran dan Sejarah Keraton Solo

blank

SURAKARTA — Dari luar, Kusuma Sahid Prince Hotel mungkin terlihat seperti hotel klasik yang mempertahankan kemegahan masa lalu. Namun, siapa sangka, bangunan di Jalan Sugiyopranoto No. 20, Solo, ini sesungguhnya menyimpan cerita panjang yang berkelindan dengan sejarah Keraton Surakarta.

Saat berkunjung ke hotel ini, kesan pertama yang terasa memang bukan sekadar “hotel tua”. Ada suasana Jawa yang kuat. Arsitektur, tata ruang, ornamen, hingga foto-foto lama yang dipajang di sejumlah sudut seperti membawa pengunjung berjalan mundur menembus waktu.

Salah satu penjelasan sejarah yang tersimpan di hotel menyebutkan, bangunan ini dahulu merupakan Ndalem Kusumoyudan, kediaman seorang pangeran putra Paku Buwono X.

Pangeran tersebut dikenal sebagai Pangeran Abimanyu yang lahir pada 1907 dan kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudo. Ia merupakan salah satu putra Paku Buwono X, raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada 1893–1939.

Menariknya, cerita tentang Kusumoyudo tidak hanya berkaitan dengan sebuah bangunan tempat tinggal.

Dalam sejarah keluarga keraton yang dipaparkan oleh Tia Kristiyanti selaku Markom Manager Kusuma Sahid Prince Hotel Solo, Pangeran Kusumoyudo sempat dipandang sebagai salah satu kandidat penerus ayahandanya. Namun, karena persoalan urutan kelahiran dari ibu yang berbeda, posisi penerus kemudian jatuh kepada Pangeran Hangabehi yang kelak menjadi Paku Buwono XI.

Dok. Kabarjawa.com

Sebagai kediaman seorang pangeran, Ndalem Kusumoyudan tentu bukan rumah biasa.

Bangunan tersebut kemudian dibangun dengan perpaduan arsitektur Jawa dan Belanda. Jejak perpaduan itu masih terasa hingga sekarang.

Yang menarik, bangunan tersebut tidak sekadar mempertahankan bentuk fisik Jawa, tetapi juga menyimpan filosofi tata ruang tradisional. Salah satunya adalah krobongan atau petanen.

Dalam tradisi rumah Jawa, krobongan merupakan ruang kecil yang berada di tengah bagian dalam rumah, di antara dua senthong atau kamar. Di dalamnya terdapat tempat tidur dengan perlengkapan kain cinde serta berbagai simbol yang berkaitan dengan kesuburan, kemakmuran, dan kebahagiaan.

Pada bagian atasnya terdapat tunas kelapa, seikat padi dan lampu. Sementara di depannya terdapat simbol Sri Sadono dan Dewi Sri, kendi serta klemuk yang menjadi lambang kesuburan dan keberuntungan.

Dengan kata lain, ruang tersebut bukan sekadar bagian dari bangunan. Ia menyimpan cara masyarakat Jawa memandang kehidupan: rumah bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga ruang untuk merawat harapan, kesejahteraan, dan keberlangsungan keluarga.

Perjalanan Ndalem Kusumoyudan kemudian terus berubah mengikuti zaman.

Pangeran Kusumoyudo wafat pada 1956. Setelah itu, kediaman tersebut masih digunakan oleh keluarga dan keturunannya. Bangunan tersebut kemudian berpindah kepemilikan dan pada akhirnya berkembang menjadi hotel.

Kusuma Sahid Prince Hotel resmi dibuka pada 8 Juli 1977. Transformasi itu tidak sepenuhnya menghapus masa lalu.

Justru sebaliknya, sebagian karakter Ndalem Kusumoyudan tetap dipertahankan dan menjadi identitas hotel hingga sekarang.

Karena itulah Kusuma Sahid Prince bukan sekadar bangunan yang dibuat “bergaya Jawa”, melainkan sebuah tempat yang memang memiliki sejarah Jawa di dalamnya.

Cerita itu semakin menarik ketika melihat siapa saja yang pernah datang dan memiliki hubungan dengan tempat ini.

Dokumentasi yang dipajang di hotel mencatat kunjungan kenegaraan pada 24 Agustus 1981. Ada pula dokumentasi kunjungan Wakil Presiden RI Sudharmono pada Oktober 1986.

Namun mungkin yang paling kuat adalah hubungan hotel ini dengan lingkungan Keraton Surakarta sendiri.

Dalam salah satu dokumentasi, Sri Susuhunan Paku Buwono XII disebut menjadikan Kusuma Sahid Prince Hotel sebagai tempat tinggalnya selama bertahun-tahun. Bahkan hotel menyediakan sebuah kamar khusus yang digunakannya selama berhari-hari, berbulan-bulan, hingga menjelang wafatnya pada Juni 2004.

Maka, ketika berjalan melewati lorong-lorong Kusuma Sahid Prince hari ini, yang terlihat sebenarnya bukan hanya ornamen lama dan foto hitam putih.

Ada lapisan sejarah yang jauh lebih panjang.

Ada kisah tentang Paku Buwono X, tentang seorang pangeran yang pernah diproyeksikan menjadi penerus takhta, tentang sebuah ndalem yang dibangun dengan perpaduan Jawa dan Belanda, tentang ruang-ruang yang sarat filosofi, hingga perjalanan sebuah kediaman bangsawan menjadi hotel yang terus hidup di tengah modernisasi Kota Solo.

Datang bukan sekadar untuk menginap

Mungkin ini yang perlu diketahui sebelum datang ke Kusuma Sahid Prince Hotel.

Jangan datang dengan ekspektasi hotel modern yang serba minimalis. Datanglah untuk menikmati suasananya.

Karena daya tarik tempat ini justru ada pada apa yang mungkin dianggap “tidak modern” oleh sebagian orang: bangunan klasik, ornamen Jawa, lorong-lorong yang menyimpan cerita, foto-foto lama, serta atmosfer yang membuat kita seperti sedang berkunjung ke Solo pada masa yang berbeda.

Bagi yang suka fotografi, tempat ini juga menawarkan banyak sudut yang menarik. Busana tradisional atau konsep pemotretan bernuansa kerajaan akan terasa sangat menyatu dengan suasananya.

Untuk acara pernikahan pun, konsep klasik dan royal bisa menjadi pengalaman tersendiri. Apalagi dengan berbagai pengalaman yang ditawarkan, termasuk konsep royal dinner, yang membuat suasana bangsawan Solo terasa semakin kuat.

Jadi, kalau suatu hari sedang berada di Solo dan ingin merasakan sisi lain kota ini, mungkin Kusuma Sahid Prince bisa masuk dalam daftar tempat yang dieksplorasi.

Bukan hanya untuk tidur semalam.Tetapi untuk berjalan-jalan, melihat, memotret, menikmati arsitektur, membaca cerita yang tersimpan di baliknya, dan merasakan sedikit atmosfer kehidupan bangsawan Surakarta.

Sebab di tempat seperti ini, hotel bukan hanya soal kamar. Kadang, bangunannya sendiri adalah bagian dari perjalanan. (CG)


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top